Danantara Menganalisis Strategi Masuk ke Industri Tekstil dengan Pembentukan BUMN Khusus

Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sedang mempertimbangkan langkah strategis untuk kembali memasuki industri tekstil dengan membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat sektor yang padat karya dan meningkatkan daya saing industri lokal.
Analisis Mendalam Terhadap Langkah Strategis
Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah masih dalam tahap kajian mendalam sebelum mengambil keputusan final. Keputusan ini akan didasarkan pada analisis yang komprehensif mengenai potensi dan kondisi pasar.
“Kami masih mempelajari kemungkinan pembentukan BUMN dalam sektor tekstil. Kami ingin memahami lebih jauh tentang ukuran pasar dan dinamika yang ada,” tuturnya menjelang rapat terbatas dengan Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 7 April 2026.
Kontribusi Industri Tekstil terhadap Lapangan Kerja
Dony menekankan bahwa salah satu faktor utama yang mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan langkah ini adalah kontribusi signifikan industri tekstil dalam menciptakan lapangan kerja. Sektor ini dikenal sebagai salah satu yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Keterlibatan BUMN diharapkan dapat memberikan dampak positif secara ekonomi, terutama dalam hal penciptaan lapangan pekerjaan,” tambahnya.
Pentingnya Pengembangan Sektor Tekstil
Lebih jauh, Dony menilai bahwa industri tekstil telah lama menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi Indonesia dan tetap relevan untuk dikembangkan. Dia menyatakan, “Sejak dulu, sektor tekstil merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki Indonesia.”
Peluang dan Tantangan Masuk ke Sektor Tekstil
Pemerintah juga membuka peluang untuk masuk ke industri tekstil jika dinilai bahwa pelaku swasta belum mampu mendukung sektor ini secara optimal. Dony menjelaskan bahwa langkah tersebut akan dipertimbangkan jika kondisi di lapangan menunjukkan kekurangan dari pihak swasta.
“Kami masih mempelajari berbagai kemungkinan yang ada sebelum mengambil langkah definitif,” ujarnya. Dony menekankan bahwa setiap keputusan yang diambil akan berlandaskan pada analisis bisnis yang solid, bukan sekadar intervensi tanpa dasar ekonomi yang kuat.
Pentingnya Perhitungan Bisnis yang Matang
Dony mengingatkan bahwa setiap keputusan haruslah berdasarkan perhitungan yang profesional. “Kami tidak ingin mengambil langkah hanya untuk memasuki industri tanpa memiliki daya saing yang memadai. Itu saja tidak akan bermanfaat,” tegasnya.
Opsi Pengambilalihan Aset Perusahaan Swasta
Menyinggung kemungkinan pengambilalihan aset perusahaan tekstil swasta yang pernah beroperasi besar, seperti Sritex, Dony mengatakan bahwa opsi tersebut masih dalam tahap kajian. Beberapa alternatif sedang ditimbang secara profesional untuk menentukan langkah terbaik yang dapat diambil.
“Kami tengah mempertimbangkan sejumlah opsi, dan semuanya akan dihitung dengan cermat untuk menemukan solusi yang paling tepat,” jelasnya.
Keunggulan Kompetitif Indonesia di Sektor Tekstil
Dony percaya bahwa Indonesia masih memiliki beberapa keunggulan kompetitif dalam industri tekstil, termasuk biaya tenaga kerja yang relatif rendah dan ukuran pasar domestik yang besar. “Kami memiliki potensi yang signifikan dalam hal biaya dan akses ke pasar,” ujarnya.
Meski demikian, penting untuk memperbaiki regulasi, terutama dalam hal pengendalian impor, agar industri lokal dapat bersaing dengan sehat. “Pengendalian impor harus diperkuat agar perusahaan dalam negeri bisa berkompetisi,” imbuhnya.
Status Pembentukan BUMN dan Prioritas Restrukturisasi
Walaupun pemerintah belum menetapkan target waktu untuk pembentukan BUMN di sektor tekstil, Dony menegaskan bahwa kajian masih berlangsung dan harus bersaing dengan prioritas restrukturisasi BUMN lainnya. “Kami masih mempelajari berbagai opsi secara bertahap, jadi belum ada kepastian waktu untuk keputusan ini,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa Danantara saat ini menangani penataan lebih dari 1.000 entitas BUMN, sehingga proses penentuan prioritas sangat krusial. “Sekitar 1.100 perusahaan BUMN harus ditata, dan kami perlu menentukan prioritas dalam proses penataan tersebut,” jelas Dony.
Jumlah BUMN yang Akan Dibentuk
Lebih lanjut, Dony menyatakan bahwa jika akhirnya diputuskan untuk membentuk BUMN di sektor tekstil, jumlah entitas yang akan dibentuk tidak akan banyak. “Kami memastikan bahwa hanya satu entitas yang akan dibentuk nantinya,” tegasnya.
Langkah ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi industri tekstil Indonesia, serta memberikan peluang baru bagi penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya saing nasional. Dengan pendekatan yang matang dan berbasis data, pemerintah berupaya untuk memaksimalkan potensi yang ada, sekaligus menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi di sektor yang vital ini.





