Rizal Bawazier Tegaskan Perbedaan Pendapat Menteri dalam RDP Komisi VI

Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terkait adanya perbedaan pendapat di antara para menteri dalam menangani regulasi industri gula nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia berpartisipasi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, serta jajaran BUMN pangan di Gedung DPR RI, Senayan, pada Rabu, 8 April 2026.
Ketidaksinkronan dalam Visi Kebijakan
Dalam forum tersebut, Rizal Bawazier secara jelas mengkritik ketidaksinkronan visi antara berbagai instansi pemerintah. Ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat ini berpotensi menghambat pencapaian target swasembada gula nasional yang ditetapkan untuk tahun 2027. Menurutnya, pertemuan seluruh pemangku kepentingan di satu meja seharusnya dimanfaatkan untuk menghasilkan solusi konkret, bukan hanya sekadar basa-basi birokrasi.
Pentingnya Koordinasi Antar Menteri
“Kami mengamati adanya perbedaan persepsi antar menteri. Untuk kepentingan rakyat, kami menekankan pentingnya semua pihak untuk duduk bersama dengan pikiran yang jernih. Setiap pemimpin harus siap bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya,” ujar Rizal tegas di tengah jalannya rapat.
Regulasi dan Implementasi yang Tumpang Tindih
Pernyataan Rizal Bawazier juga mengarah pada implementasi Pasal 30 PP No. 26 Tahun 2021. Aturan ini mengharuskan importir gula rafinasi untuk memiliki kebun tebu sendiri, namun dalam praktiknya, koordinasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dinilai masih mengalami tumpang tindih yang signifikan.
Risiko Jika Koordinasi Tidak Diperbaiki
Rizal menekankan bahwa jika perbaikan dalam koordinasi tidak segera dilakukan, maka rapat-rapat koordinasi yang berlangsung akan menjadi agenda seremonial yang tidak menghasilkan dampak nyata bagi kemandirian pangan nasional.
Fokus pada Poin-Poin Strategis RDP
Selain mengkritik ego sektoral yang tampak, Rizal juga mengawal sejumlah poin strategis yang menjadi agenda dalam RDP tersebut, di antaranya:
- Sinergi BUMN: Mendukung penggabungan PT PG Rajawali I dan II ke dalam PTPN Group untuk meningkatkan efisiensi produksi.
- Optimasi Aset: Mendesak penyelesaian hambatan aset pada PTPN III agar perusahaan dapat beroperasi secara maksimal.
- Inovasi Bioetanol: Membahas potensi molase sebagai bahan baku energi alternatif sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apresiasi dan Harapan untuk Swasembada Gula
Di akhir pernyataannya, Rizal Bawazier memberikan apresiasi kepada pemerintah atas niatnya dalam mencapai swasembada gula pada tahun 2027. Namun, ia mengingatkan agar komitmen tersebut diwujudkan dengan tindakan nyata di lapangan.
Pentingnya Langkah Konkret
“Tekad untuk mencapai swasembada gula pada tahun 2027 sangatlah positif. Kami berharap ini dapat direalisasikan dengan langkah-langkah konkret dan bukan hanya sekadar wacana belaka,” tutup Rizal dengan tegas.
Dalam konteks ini, penting bagi para pemangku kebijakan untuk bersatu padu dalam menyusun strategi yang efektif. Hanya dengan kolaborasi yang baik, cita-cita swasembada gula dapat tercapai demi kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan nasional.